ISAK DAN ISABEL (KARENA DIA)




 Di antara gemerlapnya malam Bali yang tenang, aku duduk termenung di tepi pantai, memandang ombak yang menggulung dengan riuhnya. Hatiku seperti terombang-ambing dalam lautan perasaan yang tak menentu. Aku isak, merasakan getaran luhur yang mengalir dalam setiap serat jiwaku. Isabel, wanita yang telah menghiasi pikiranku sejak tahun 2020, kini menjadi pusaka dalam hati yang dipenuhi keraguan.


Seiring berjalannya waktu, ketidaksamaan tempat telah menjadi dinding yang memisahkan kami. Dia di Jakarta, aku di Bali. Namun, jarak bukanlah alasan bagiku untuk tidak memandangnya dengan serius. Sejak awal, aku telah menemukan keinginan tulus untuk menjalin hubungan yang sejati. Namun, keterbatasan fisik dan perbedaan tempat menghalangi langkah-langkahku menuju kepadanya.


Aku telah merasa bahwa jika aku menunjukkan ke-serius-an, mungkin dia tidak akan menganggapku serius. Maka, aku memilih untuk memperlakukan segala hubungan kami dengan candaan, sebagai alasan untuk menjauh jika saatnya tiba. Tetapi, bagaimanapun juga, hatiku tidak pernah bisa melupakan dirinya. Dan sekarang, di tahun 2024, empat tahun telah berlalu sejak kita pertama kali bertemu.


Kini, kami semakin jarang berkomunikasi. Alasan sepele seperti hp-nya diserahkan kepada kakaknya menjadi penghalang yang lebih kuat dari jarak fisik itu sendiri. Namun, hari ini, ketika isengku membuka Instagramnya, sebuah saran teman muncul di bawah profilnya. Tanpa diduga, aku menemukan sebuah akun dengan foto profilnya bersama seorang pria lain. Hatiku berdebar hebat, mencoba menolak kebenaran yang terpampang di depan mata.


Tanpa ragu, aku membuka akun itu dan menemukan foto-foto mereka berdua di story Instagram. Sakit yang luar biasa menusuk jantungku. Saat itulah aku sadar bahwa perasaan cinta yang kugenggam selama ini mungkin hanyalah ilusi belaka.


Dengan langkah-langkah yang berat, aku mencoba berkomunikasi dengan Isabel. Namun, jawabannya hanya mengguratkan luka lebih dalam. Dia mengaku tidak mengetahui keberadaan pria itu, sementara pria tersebut bersikeras bahwa Isabel adalah kekasihnya. Dan di antara pergulatan ini, aku hanya bisa menangis dalam kebimbangan dan keputusasaan.


Isabel akhirnya mengungkap bahwa pria itu adalah mantan pacarnya, sosok yang selalu menghantuinya meski sudah berpisah. Namun, bagiku, kata-kata itu tak lagi memiliki makna. Kehancuran hati ini tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Rasa marah, kebencian, dan sakit yang meluap begitu kuat, menenggelamkan diriku dalam gelombang duka yang tak terhingga.


Di sini, di Bali yang indah ini, aku berusaha membenahi diri, mengumpulkan sisa-sisa hati yang hancur untuk melangkah ke depan. Mungkin ada kebeningan dalam bermimpi bahwa kita berdua bisa bersatu. Tetapi, kenyataan yang menyakitkan telah menggiringku ke jurang kesendirian yang dalam. Dan sekarang, hanya ada satu pertanyaan yang memenuhi pikiranku: apa yang harus kulakukan selanjutnya, di tengah kekosongan yang terasa begitu nyata?

Lebih baru Lebih lama