"Iter Malum" update 1.00 (revisi tulisan yang belibet)

gambar ilustrasi AI


 "Arif, cepat mandi dan makan. Jangan main HP terus!" seru Bunda dari dapur, sementara aku yang di kamar hanya bermain game di ponselku.

"Iya, Bun," jawabku malas.



    Nama lengkapku Muhammad Arifin, pemberian orang tuaku dengan makna indah, Muhammad dari nama Nabi Muhammad SAW, dan Arifin yang berarti bijak, yang tahu, dan pandai. Orang-orang memanggilku Arif. Aku siswa kelas 3 SMA yang kini menghadapi ujian terakhir. Sayangnya, pandemi COVID-19 membuat semua aktivitas, termasuk sekolah, berubah. Sudah tiga bulan sejak sekolah dialihkan ke online. Setiap dua hari sekali, materi dan soal dikirim, tapi aku hanya mengerjakan soal tanpa membuka materinya.



Aku pun mengambil handuk dari balik pintu dan bergegas mandi. Kamar mandi kami dekat dapur, jadi aku sempat bertanya pada Bunda yang sedang memasak, "Masak apa hari ini, Bun?"

“Ikan yang kemarin diberi teman Ayah, sana mandi terus makan.” jawabnya sambil menyuruhku segera mandi.

Setelah mandi, aku mengenakan baju dan pergi ke dapur. Makanan sudah siap di meja, dan saat hendak mengambil nasi, aku melihat Ayah baru pulang.

“Yah, makan,” sapaku.

“Iya, Ayah mandi dulu,” jawab ayah yang baru masuk rumah.



Di meja, ada sayur ikan laut, sayur terong blendrang, tahu, tempe, dan ikan goreng. Aku hanya mengambil sayur dan tempe karena aku tidak suka ikan laut yang menurutku amis. Sambil makan, aku biasa menonton video di YouTube, karena kami tidak punya TV.

Saat Bunda melihatku makan tanpa ikan laut, ia bertanya, "Kok enggak ambil ikannya, Rif?"

“Memang sejak kecil Arif memang nggak suka ikan laut,” jawab Ayah yang baru keluar dari kamar. Aku hanya tersenyum sambil melanjutkan makan.

Setelah makan, aku bermaksud mencuci piringku, tapi Bunda berkata, “Sudah, nanti Bunda yang cuci sekalian dengan wajan.”

“Iya, Bun. Aku mau ke Mbah,” jawabku.

Sebelum pergi, Ayah berteriak dari dalam kamar, “Bawa pepaya yang di kresek buat Mbah.”

Aku pun mengambil sepeda tua pemberian Mbah. Meski sudah tua, masih nyaman dipakai. Saat meluncur, sinar matahari sore terasa hangat. Dalam dua menit, aku sudah tiba di rumah Mbah. Rumah tua bercorak kolonial itu selalu menyenangkan untuk disinggahi. Aku memberi salam pada Mbah Kakung yang baru selesai wiridan, lalu memijat bahunya sambil mendengarkan cerita masa mudanya.

Azan Magrib berkumandang, dan aku pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Magrib. Setelah shalat, aku kembali ke rumah Mbah, dan setelah berpamitan, aku pergi ke rumah temanku, Lukman. Di depan rumah Lukman ada rumah Putri, tetangganya yang cantik. Saat sampai, aku melihat Putri tidak ada di teras. Aku masuk ke rumah Lukman dan mengucapkan salam.

“Assalam’mualaikum.”

“Waalaikum salam,” jawab Lukman dan ibunya. Aku duduk di dekat Lukman, berniat bertanya soal Putri, tapi dia sudah mendahuluiku, “Putri enggak ada.”

Aku langsung tersipu, tapi segera beralasan, “Nyari gitar kok, bukan Putri.”

Ibunya Lukman ikut menggoda, “Nyari gitar atau Putri?”

Aku hanya tersenyum malu. Tak lama kemudian, Putri datang diantar kakaknya. Ingin rasanya menyapanya, tapi aku hanya berani tersenyum melihatnya masuk rumah. Malam pun semakin larut, dan aku berpamitan pulang karena besok pagi ada ujian.

Aku kembali mengayuh sepedaku pulang. Suasana desa yang tenang, dengan bintang di langit menemani sepanjang perjalanan. Rumahku tampak modern dibandingkan rumah Mbah. Aku masuk tanpa perlu mengetuk karena pintu tidak pernah dikunci jika aku keluar malam. Setelah mengunci pintu dan bersiap tidur, aku memasang lagu favorit “Sheila on 7 – Anugerah Terindah yang Pernah Kumiliki,” yang selalu membuat tidurku lebih nyenyak.



    Pagi tiba, aku terbangun dan melihat ponselku menunjukkan pukul 7:40. Ujian dimulai pukul 9:30, jadi aku segera bersiap memulai rutinitas pagi. Mulai dari mandi, makan, dan rebahan, hanya itu yang aku lakukan sehari – hari . Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9:00 , dan materi di berikan oleh guru melalui grub kelas di Whatsapp. Seperti biasa aku tidak membaca materi yang di bagikan, dari pada membaca materi yang memusingkan lebih baik aku membaca postingan yang berada dilaman berandaku di Facebook. Notifikasi grub kelasku mengalihkan pandanganku dari laman Facebook, tak terasa waktu sudah berlalu 30menit dan guru membagikan link untuk Absensi, segera aku mengisi formulir absensi, setelahnya aku pergi untuk mengambil buku Bahasa Indonesia untuk menjadi contekkanku. Sembari menunggu link soalnya aku sempatkan untuk membaca buku Bahasa Indonesia terlebih dahulu, supaya nanti tidak memakan waktu yang lama untuk mencari contekkannya, meski waktu yang diberikan cukup lama yaitu 120menit, tetapi aku ingin menyelesaikan soalnya dengan segera, karena aku ingin pergi kerumah Lukman untuk melihat siPutri .



Lebih baru Lebih lama