"Until We Meet Again"




Matahari baru saja tenggelam di atas kota saat Maya keluar ke balkon, menikmati angin sejuk malam. Dia menutup mata dan menghirup dalam-dalam, seakan mencoba mengambil sedikit dari dunia untuk waktu yang lebih lama. Dia tahu bahwa waktunya semakin terbatas, dan itu membuatnya semakin sulit untuk melepaskan.

"Maya?" suara yang familier berbisik di belakangnya. Dia berbalik dan melihat Juna, tunangannya, berdiri di pintu masuk. Dia melihatnya dengan penuh kekhawatiran dan cinta. Maya mencoba tersenyum, tapi bibirnya bergetar tanpa kendali. Juna mendekatinya dan merangkulnya erat, memeluknya.

"Jangan menangis," katanya, suaranya hampir bisikan. "Kita masih punya waktu bersama."

Maya melihat Juna dengan air mata mengalir di pipinya. "Aku nggak mau meninggalkanmu," dia berkata, suaranya bergetar. "Aku nggak mau mati."

Juna mengusap rambutnya dengan lembut, merasakan air mata hangatnya di dadanya. "Aku tahu," katanya lembut. "Tapi aku selalu mencintaimu, apapun yang terjadi."

Mereka berdiri di sana beberapa saat, saling merangkul, sampai air mata Maya mereda. Dia condong untuk melihat Juna.

"Aku punya sesuatu yang mau kusampaikan padamu," katanya, suaranya hampir bisikan.

"Apa itu?" tanya Juna, wajahnya penuh kekhawatiran.

Maya mengambil napas dalam-dalam. "Aku pergi ke dokter hari ini," dia mulai, suaranya gemetar. "Dia bilang bahwa kankerku telah menyebar. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untukku."

Mata Juna melebar kaget, dan dia mulai menggelengkan kepalanya. "Tidak, itu tidak mungkin," katanya, suaranya serak.

Maya memandang tangannya, tidak bisa menatap mata Juna. "Maaf," katanya. "Aku berharap ada sesuatu yang bisa kita lakukan."

Juna menggenggam wajahnya dengan tangannya, memaksa Maya untuk menatap matanya. "Jangan bilang begitu," katanya dengan tegas. "Kita akan menghadapinya bersama-sama. Aku akan selalu di sampingmu."

Mereka saling merangkul erat, kemudian Maya menatap Juna.

"Kau harus berjanji padaku satu hal," katanya.

"Apa itu?" tanya Juna.

"Kau harus berjanji padaku bahwa kau akan melanjutkan hidupmu," katanya dengan tegas. "Kau harus bahagia, bahkan saat aku sudah tidak ada di sini lagi."

Juna memandanginya dengan kebingungan dan kesedihan di matanya. "Apa yang kau bicarakan?" tanya Juna.

Maya menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak ingin kau menghabiskan sisa hidupmu berkabung untukku," katanya. "Kau memiliki begitu banyak cinta untuk diberikan, dan kau pantas bahagia."

Juna merasa ada getaran di tenggorokannya. "Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu," dia berbisik.

Maya menggenggam tangannya dan mengencangkan pegangan. "Aku tahu," kata Maya. "Tapi janjikan padaku bahwa kau akan mencobanya."

Juna mengangguk, tidak bisa mengucapkan kata-kata. Mereka berdiri di sana dalam keheningan, masing-masing terhanyut dalam pikiran masing-masing.

Seiring berjalannya hari, kondisi Maya semakin memburuk. Dia menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat tidur, dengan Juna di sisinya. Dia memegangi tangannya dan membicarakan rencana mereka untuk masa depan, meskipun mereka berdua tahu bahwa tidak ada masa depan untuk mereka berdua.

Pada malam terakhir dalam hidup Maya, Juna berbaring di sampingnya di tempat tidur, memeluknya erat. Maya melihat ke arahnya, wajahnya pucat dan lemah.

"Aku mencintaimu," katanya, suaranya hampir bisikan. "Aku akan selalu mencintaimu."

Juna membungkuk dan menciumnya dengan lembut di bibir. "Aku juga mencintaimu," katanya, suaranya tercekik oleh emosi.

Maya menutup mata, napasnya semakin lemah dan lemah. Juna merasa tangannya mengendur, dan dia tahu bahwa dia sudah pergi.

Untuk waktu yang lama, Juna berbaring di sana, masih memegangi tubuh Maya, menangis dalam-dalam. Akhirnya, dia bangkit dan meninggalkan kamar itu, hatinya berat karena kesedihan.

Dia tahu bahwa Maya akan menginginkan dia untuk melanjutkan hidupnya, tapi dia tidak bisa membayangkan pernah bahagia lagi. Dia merasa seakan sebagian dari dia mati bersamanya, dan dia tidak akan pernah merasa utuh lagi.

Tapi dia mencoba mengingat kata-kata Maya, dan dia mencoba menemukan kebahagiaan dalam kenangan yang mereka bagikan. Dan pelan-pelan, seiring berjalan waktu, dia mulai menyadari bahwa meskipun Maya tidak lagi bersama dia, cintanya selalu akan ada di sana. Dan itu cukup.


Lebih baru Lebih lama