Hidup, dari sisi filsafat hidup adalah jiwa, sedangkan dari sisi biologi hidup adalah Kehidupan, dua hal itu tidak bisa di pisahkan ibarat pantai dan laut. Hidup itu penuh dengan perjalanan, ada lika-liku dalam perjalanan , coba kamu jalan - jalan deh ga mungkin kamu nemu jalan dari ujung ke ujung itu lurus tanpa belokan, kecuali sirkuit motor drag yang memang di desain untuk balap kecepatan atau menguji kecepatan mobil atau motor. Tapi jujur hidup ini tuh ada aja cobaanya kita sebagai manusia cuma bisa berandai - andai dan mencoba jika tidak sesuai dengan apa yang kita andai - andaikan kita cuma bisa bilang "Seandainya aja", itulah yang aku rasain sekarang. Kenalin nama aku David, seorang pemuda yang keinginannya selangit tapi takut untuk melangkah, wajah yang awet tua, badan gempal karena males gerak, nolife, wibu, intinya pemasalas deh, tapi pengen banget kaya.
Bab 1. (Seandainya orang tuaku tidak bercerai)
Aku David Elangga dari kecil aku di panggil David, masa kecilku yang bisa aku ingat sangatlah indah, meskipun kita bisa di bilang dari keluarga kalangan bawah tapi aku merasa bahwa keluarga sangatlah indah. Ayahku bekerja,berjuang melakukan apapun untuk memenuhi kebutuhan aku, ibu dan 2 orang kakakku, aku 3 bersaudara, kakakku yang pertama berbeda 5 tahun dengan aku sedangkan kakakku yang kedua berbeda 2 tahun dengan aku, semuanya perempuan hanya aku yang laki laki. Ingatanku yang paling pertama kali aku ingat ayahku bekerja sebagai penjual ayam, kadang ketika ayamnya habis terjual isi keranjangannya berubah menjadi hal yang aku sukai, ada kebutuhan pokok beras, tempe, telur dan mie, itu yang aku ingat, setelah itu ayah berganti profesi menjadi petani, aku sering di ajak kesana, ayah dan ibu selalu membawa bekal, karena nasinya panas ketika di buka mengeluarkan bau khas yang sampai sekarang aku ingat jelas baunya, tapi itu tidak bertahan lama bencana mengguncang hujan badai melanda akhirnya paru atau gagal panen, ibu menangis hingga berguling guling ayah mencoba menenangkan dan bilang ke ibu;
"sabar ya sabar" kata ayah menenangkan.
"kita masih ada kambing di belakang itu, masih banyak" lanjut ayah menenangkan ibu.
Setelah itu aku yang masih belum tau apa apa itu di ajak ayah kekamar untuk tidur karena waktu sudah cukup malam saat itu. Pagipun muncul aku pergi ke dapur melihat ayah dan ibu sedang memasak, ayah menyiapakan kayu bakar dan ibuku menggoreng sesuatu, dan aku sudah tau apa yang di masaknya, tempe dan tahu itu sudah makanan yang terfavoritku bahkan hingga kini. Pada akhirnya ayahku mejual keranjang ayamnya untuk membeli bejak, kenapa? karena resiko penjualan ayam itu sangat besar karena jika ada ayam curian yang di jual ke ayahku ayahku bisa menjadi penadah di kepolisian, akhirnya ayahku membeli becak dan melakukan pekerjaanya setiap hari hingga pada akhirnya aku masuk sekolah SD, setiap hari aku di antar dan di jemput ayah menggunakan becaknya, kadang ayah berangkat subuh jadi aku di bonceng menggunakan sepedah gayung oleh ibu ku kesekolah. "continue"
Bab 2. (Seandainya aku tidak ingin cepat kaya)
{belum diisi}
Bab 3. (Seandainya ibuku tidak berubah)
{belum diisi}