Kutengadahkan wajah pada cakrawala yang kelam,
Mencari setitik terang di antara doa yang karam.
Namun semesta membisu, tak ada gema bersahut,
Hanya duka berdarah yang memeluk jiwaku kalut.
Dahulu kuyakini ada Tangan yang Maha Pengasih,
Yang merajut takdir, membasuh tangis yang merintih.
Kini, saat cintaku direnggut dan dadaku dicabik ampun,
Di manakah Engkau ketika harapku runtuh beruntun?
Bila kasih sayang-Mu seluas samudera yang tak bertepi,
Mengapa Kau biarkan aku mati perlahan dalam sepi?
Mimbar batinku hancur, ayat-ayat tak lagi terbaca,
Sebab luka yang keji ini menelan wujud Sang Pencipta.
Maka biarlah aku melangkah dalam gulita tanpa arah,
Sebab janji-janji surga takkan mampu membasuh darah.
Di atas puing-puing hati yang tak sudi lagi berharap,
Tinggallah aku bernaung di bawah langit yang gelap.